Not As Green As It Looks

October 25, 2007

Topic of The Day : How To Make Our Parents Happy?

Filed under: About Life — Tags: , , , — Xander™ @ 11:30 am

The greatest gift from God is my life. Then, the second are my parents.

Pagi-pagi ngeblog. Coba lihat jam berapa saat ini? 11:28 am. Orang bilang jam segini adalah siang hari. Namun bagi anak kos sepertiku, jam segini bagaikan jam setengah tujuh pagi, karena aku baru saja bangun. Nikmat sekali masa-masa menjadi mahasiswa ya, sayang sebentar lagi akan segera berakhir, kalau lulus itu juga… hahahhahaha… aku jadi teringat salah satu status YIM temanku yang kemarin mengatakan tentang quote of the day : Lebih takut mana, sidang skripsi atau kita ‘gak bakalan sama-sama lagi?

Aku baru tersadarkan, bahwa ternyata waktuku menjadi mahasiswa tidak panjang lagi (macam pemeran utama drama yang mau mati gitu, ngomongnya gini pasti…). Awal tahun depan, sudah mulai nyari kerja. Kalau aku berpikir tentang quote di atas, maka sekarang aku akan jawab dengan yakin, aku lebih takut perpisahan. For about the three years we’ve been together, we’ll be separated each other. Rasanya berat meninggalkan rutinitas seperti saat ini. Namun dikaitkan lagi dengan kalimat pertama yang aku tulis di atas, aku rasanya ingin cepat-cepat lulus dan minimal bisa menghidupi diriku sendiri. Tidak lagi bergantung pada orang tua.

Aku bukan berasal dari keluarga yang kaya. My father’s just an employee in my relative’s shop. And my mother opened a small shop at my house that only can cover a daily budget of my family. Tetapi itu tidak menghalangi mereka berjuang untuk keluarga. Terutama untuk anak-anaknya. Aku merasa sangat bersyukur memiliki orang tua seperti mereka. Tidak memberikan kepuasan materi kepada anak-anaknya memang, namun dengan kebijaksanaan dan pendidikan yang diberikan selama ini, aku menjadi aku yang sekarang. Setiap cara pikir dan cara mengambil keputusan yang aku lakukan, mayoritas aku lihat dari papaku. Kedisiplinan, keteguhan, dan mungkin sedikit kebiasaan rapi aku dapatkan dari mamaku. Aku memang bukanlah orang yang dapat dibilang baik, namun aku merasa semua kebaikan yang ada dalam diriku, sebagian besar terpupuk dari didikan orang tuaku semasa aku tinggal di rumah (secara sudah 3 tahun belakangan ini ngekos di Jakarta).

Saat ini, mereka sudah beranjak tua. Papaku sudah merasakan berbagai keluhan dengan tubuhnya. Rasanya sangatlah tidak enak melihat mereka yang sudah cukup untuk dibilang tua (atau kalau tidak terima, hampir tua deh), masih saja bekerja keras untuk anak-anaknya. Dan aku merasa teramat bersalah lagi, apabila aku menyia-nyiakan begitu saja hasil kerja keras mereka salama ini. Aku terkadang merasa miris melihat beberapa orang temanku. Terdapat dua kondisi yang membuatku merasa miris.

Yang pertama yaitu, ada seorang anak yang orang tuanya kaya raya. Namun jangankan untuk berkomunikasi, untuk bertemu dengan orang tua pun jarang, walaupun mereka tinggal satu rumah. Orang tua terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, dan tidak memperhatikan anaknya. Mereka hanya memberi modal materi yang banyak kepada anaknya, tanpa pendidikan mental dan moral, padahal mungkin anaknya sangatlah merindukan hal itu, anaknya merasa iri kepada temannya yang lain, yang walaupun tidak kaya raya tetapi dekat dengan orang tuanya. Ini bukanlah cerita di buku PPKn ataupun buku pelajaran agama, ini benar-benar terjadi.

Lalu yang kedua adalah seorang anak yang keluarganya dapat dibilang tidak kaya raya. Anak tersebut selalu disupport oleh orang tuanya. Apapun yang diminta selalu diberi, meskipun memerlukan usaha keras untuk mewujudkannya. Anak tersebut hidup bagaikan orang kaya. Namun jangankan membahagiakan orang tua, kuliah saja berhenti di tengah jalan. Lalu dengan dalih tidak mampu mengikuti, dia mengambil sekolah jurusan lain yang juga membutuhkan modal besar. Orang tua yang melihat anaknya seperti itu, mungkin hanya bisa mengurut dada. Toh, orang tua yang baik tidak akan menelantarkan anaknya, sejahat apapun anaknya, dia tetap anaknya.

Aku jadi teringat salah satu kalimat yang pernah papaku bilang, “Papa nggak bisa ngasih kamu banyak seperti yang orang lain kasih ke anaknya, tapi cuma bisa berusaha dan berdoa, supaya kamu bisa sukses, bisa lebih baik dari Papa. Yang bisa diusahakan sekarang adalah sampai kamu lulus kuliah, selebihnya usaha kamu dan berkat dari Tuhan.” Hal apa yang lebih indah selain merasa didukung dan didoakan oleh orang tua? Aku rasa aku memiliki hal yang lebih baik dibanding kepuasan materi. Karena apa yang diinginkan orang dengan materi? Kebahagiaan bukan? Seberapa “urgent”-nya kah arti materi apabila ada orang yang mencintai kita dan senantiasa mendukung kita serta mendoakan kita? (materi tetap saja dibutuhkan sih, nggak ada duit nggak makan toh?)

Mamaku, adalah seorang pekerja keras yang selalu mementingkan kebutuhan anaknya daripada dirinya sendiri. Apapun yang dibutuhkan anaknya, mama selalu berusaha untuk memenuhinya (yang masuk akal tapi ya, kalau anaknya butuh mobil ya dicuekin juga). Mama selalu berusaha terbuka kepada anak-anaknya, jadi anak-anaknya pun selalu merasa enak untuk bercerita, mengungkapkan masalah yang sedang dialami, atau dalam bahasa manusianya “curhat”. Aku pikir tidak banyak anak yang curhat kepada orang tua. Namun hal itu menjadi biasa di keluarga kami. Itulah yang membuat aku merasa dekat dengan orang tua. Dan semua hal yang baik itulah yang membuat aku merasa aku harus berusaha membuat mereka bahagia.

Mimpiku saat ini adalah dapat membuat mereka bahagia di hari tua, tidak lagi harus bekerja menghidupi keluarga dan diri mereka sendiri. Istilahnya dapat menikmati hidup dengan santai. Musuh utamaku saat ini adalah : malas. Ya, hal itu memang selalu menjadi musuh di kala niat berusaha sudah ada. Sekarang ini hanyalah bagaimana aku dapat mengalahkan kemalasanku dan terus berusaha. Semoga aku bisa…

Mungkin quotes tersebut harus diganti menjadi seperti ini:
Lebih takut mana, melihat orang tua yang telah berusaha untuk kita begitu banyak menjadi kecewa atau kita (teman-teman) ‘gak bakalan sama-sama lagi?”
Such a hard decision to make… hahahahahaha….
See you in my next post…

Regards,
Xander™

October 22, 2007

The Lord of Lemot : The Legend of Komot

Filed under: About Life — Tags: , , — Xander™ @ 11:58 pm

A lot of things in this life, but only one thing that concern, life itself. It can be a secure and boring life, when you step on a straight line from the start until the finish. But when you choose a different path, and start to walk a new different line, life can be risky sometimes, but it will be colorful. Which way will you choose?

Beberapa waktu setelah peristiwa “berdarah” dengan seorang anak kecil di bioskop, hidup seorang mbing telah mengalami berbagai macam hambatan dan tantangan, namun hingga saat ini, aku masih tetap bertahan hidup. Ya iya lah, masa mati gitu? Bisa langsung ada tulisan ~THE END~ donk di blog ini kalo gitu. Jadi doakan saja aku panjang umur ya. Seperti kedua temanku yang hari ini ulang tahunnya dirayakan, atau setidaknya, pretend to be celebrated.. hahahahaha… joke joke…

Yang pertama adalah Meke, atau orang lebih banyak menyebutnya Mekemot. Mengapa demikian? Hanya Tuhan dan kami yang tau, anda perlu mendaftar dulu untuk bisa tau mengenai legenda tersebut. Jadi cukup dengan legenda yang satu ini, karena masih ada satu orang legenda yang belum disebut. Sebelumnya, aku mengucapkan dulu selamat ulang tahun yang ke 21 untuk Mekemot, semoga sukses buat semua cita-citamu, selamat anda telah mengurangi jatah hidup anda, (aduh rasanya kok kejam, ralat-ralat) diralat : selamat melangkah satu tahap ke kedewasaan (that sounds better).

Rasanya memang bertambah usia itu tidaklah mudah, bagiku sendiri, usia yang sudah 21 ini memberikan berbagai sensasi, yang pertama adalah bahwa, aku bersyukur masih diberi kesempatan memperbaiki diri, lalu yang kedua, aku merasa beban hidupku bertambah, karena dengan ini, aku harus lebih dari diriku yang dulu, harus bisa memberikan sesuatu baik bagi diriku sendiri maupun bagi orang tua khususnya, dan bagi orang-orang yang ada di dalam hidupku. Perasaan senang sekaligus nervous bercampur menjadi satu dengan kejadian-demi-kejadian yang mewarnai hidup kita ini. We’ve got to be stronger than before!

Cukup dengan bisi basi, kali ini aku akan bercerita tentang seorang legenda, lebih tepatnya legenda hidup. Dia adalah Mr. Wandy Pangeran Lemot Cinta, atau dengan julukan baru yang lebih keren dan fresh : KoMot (alias Koko LeMot). KoMot ini konon adalah kembaran dari Mekemot yang hilang. Ketika mereka difoto, sudah tampaklah kemiripan dari mereka, bagaikan adik kakak dibelah dua (sounds weird?). Oh ya, I haven’t told you why he became a legend right? He is the only man I know in this life as the most “lemot” person (I haven’t found the English word of lemot yet, if there’s anyone have it, please let me know).

Jadi begini ceritanya…
Sekembalinya dari kos Mekemot, di jalan, terjadi percakapan seperti ini:
Me : “Tani, how much I must pay for the cake?”
Tani : “Oh nggak usah, udah dibagi kok itu.”
Me : “No, no. I want to take a part in it. Gue mau ikutan kok.”
Tani : “Hmmm… mungkin jadi sekitar *beep* rupiah, emang yang lain mau ikutan juga?”
Me : “Gue sih ok, gimana tuh KoMot sama Kojek?”
Tani : “KoMot ikut? Kojek juga, lu gimana?” *bertanya pada KoMot dan Kojek*
KoMot : “Ok.. ok… ikut ikut…”
Kojek : “Ayo ayo aja.”
*after a few seconds*
KoMot : “Memangnya kita mau pergi kemana gitu?”
Me : ”Lho?!?!?! Kok jadi Pergi?”

GUBRAK!

All except KoMot : “Wakaokwaokwawaokwaokwawaok” *ngakak like crazy*
Kojek : *saking gilanya langsung mencari tiang listrik dan (berpura-pura) menghantamkan kepalanya ke tiang tersebut*
Tani : *doing the same thing, but onto a wall*

Mungkin karena karma atau apa, tak lama kemudian, Kojek “kejeblos” ke got yang sebenarnya tidak perlu terjadi, karena tiba-tiba saja pijakannya roboh dan amblas ke dalam got… LOL!

Inilah yang terjadi, ketika seharusnya “trigger” yang sudah dibangun sejak “salaman yang melegenda yang terjadi di Puri Rent” tersebut ada follow-up-nya. Karena berakhir begitu saja, maka “Lemot Release Trigger” pun berakhir. Dan terbukti dengan hal di atas. Belum cukup sampai di situ, masih ada beberapa hal yang membuat KoMot menjadi legenda.

Setelah lebaran, akhirnya Mbak cuci di kosku pun kembali bekerja. Hal itu sangatlah aku syukuri, karena dengan begitu jabatan PRT pun terlepas dari diriku. Terima kasih Mbak telah cepat kembali. Hahahahahaha…. Tapi bukan itu yang mau kuceritakan. Alkisah pada suatu petang yang cerah dan terik (oh salah ya, petang mana ada yang terik), aku bersama Kojek dan KoMot kembali dari perantauan dengan tujuan mengisi perut. Ketika masuk kos, ternyata ada si Mbak sedang duduk di depan. Secara itu adalah pertemuan pertama setelah lebaran, maka aku pun mengucapkan selamat lebaran…

Me : *menyalami Mbak* “Met lebaran ya mbak, maaf lahir batin yaa…”
Mbak : “Iya makasih Lek.”
Kojek : *ikut salaman juga* “Met lebaran mbak…”
Mbak : “Iya…”
KoMot : *dengan kebingungan, ikut salaman juga, namun dengan omongan yang berbeda :*Kalian ada apa ya ini, nyalamin mbaknya?

GUBRAKKK!!!!

Me : “Astagaaaaaaa!”
Kojek : *ngakak like crazy*
Mbak : *ngakak juga*

Ada peristiwa lain yang juga mengukuhkan KoMot sebagai the legend, karena tidak hanya dalam kejadian “live” lemotnya kumat, namun juga dalam chatting ataupun dalam kegiatan “recorded”. Sebagai contoh yang satu ini…

Ceritanya, pada saat itu Tani mengupdate blognya yang bercerita tentang bagaimana dia jatuh cinta kepada sebuah baju, yang dia lihat di salah satu supermarket. Ketika pertama kali melihatnya dia langsung suka dengan baju tersebut, hingga beberapa saat kemudian dia membelinya dan memamerkannya di blognya, namun dengan bahasa kiasan seakan-akan dia sedang jatuh cinta beneran, beginilah interpretasi KoMot tentang blog Tani :

*dicopy-paste dari archieve YIM Dj beberapa waktu yang lalu*
Djadul (10/11/2007 1:21:15 AM):
KoMot: love at the first sight
KoMot: biasanya Love yang suci
KoMot: bukti nyata itu Tani
KoMot: terus
KoMot: ummmm
Dj: hah
Dj: Tani ?
KoMot: saya juga punya pengalaman yang gak boleh saya ceritakan
KoMot: Love at the first sight
KoMot: wew
Dj: Tani np?
KoMot: belum baca blog Tani?
Djadul (10/11/2007 1:21:15 AM): –’
Djadul (10/11/2007 1:21:18 AM): jelasin lek

Dj sampai menyerah untuk mencoba menjelaskan bahwa blog Tani itu tentang baju, bukan tentang cinta sejati. Wkoakakakkakakakak…. Tenang saja KoMot, lemot-lemot juga tetap teman baikku kok. Cuma itu lemotnya memang tiada banding, tiada duanya… mirip iklan mobil ya?

Pulang ke kos, dilanjutkan dengan potong kue dan foto-foto dengan Beni, yang juga berulang tahun hari ini. Happy birthday Ben! Fiuh, double birthday cake in a row. I am full!

OMG, sudah sepanjang ini aku mengetik. Mungkin untuk mengetik tentang legenda hidup memang harus panjang… Tapi karena tidak ingin terlalu panjang, aku akhiri sampai di sini. Gud nait and see you in my next post!

Regards,
Xander™

October 11, 2007

Resident Evil 3 : Extinction – featuring commentary : “Undead” Child and His Mom

Filed under: About Life — Tags: , — Xander™ @ 1:23 am

Judul yang bagus bukan? Sangat ilmiah kelihatannya. Bagi seorang kambing menuliskan judul sebagus ini sangatlah aneh bukan? Yup, sudah-sudah, cukup membanggakan judul yang bahkan tidak perlu aku banggakan sama sekali. Toh faktanya hanyalah judul saja yang keren, tapi kejadian di balik itu boleh dibilang “Mbing Bad Luck of-the-Day”.

Hari Selasa ini, kondisi badan udah mulai mendingan. Setelah sakit tenggorokan (yang diduga radang tenggorokan karena Mbing jarang melahap sayuran dan lebih banyak melahap sambal) dari hari Minggu, yang juga membawa dampak aku tidak ikut ke acara ultahnya Amel (sori Mel, tapi makasih mie baksonya, kekenyangan waktu itu), aku merasa hari ini saatnya untuk……………………………………………….. mencuci pakaian! Lho!?!?! Kok mencuci? Kapan cerita tentang RE 3? Tenang-tenang, secara pembantu di kos udah pulang kampung, maka aku dengan rendah dada dan lapang hati, mencuci baju-bajuku sendiri dan kemudian menjemurnya di lantai 4 (baca: tempat jemuran).

Selesai dengan cuci mencuci (kalau kelamaan bisa jadi lemot, karena konon Mr.Wandy Pangeran “Lemot” Cinta menjadi lemot karena kelamaan mencuci), rencana selanjutnya adalah nonton RE 3 yang sudah tertunda beberapa kali. Singkat cerita, sampailah aku bersama Mr.Wandy Pangeran “Lemot” Cinta di TAgo. Nggak tau TAgo? Itu tuh TA (Taman Anggrek) goblooooooooooookkkk…. hihihihihi…..

Sesampainya di TA, setelah mengambil ATM, ehh upss… mengambil uang di ATM sekaligus bayar hutang (malu-maluin bayar hutang aja sampe diketik), langsunglah kami bergegas ke 21. Begitu masuk, theater masih kosong, namun tambah lama semakin banyak orang yang datang, sampai-sampai ketika masih diputar trailer-trailer film, ada seorang anak muda yang sok berjiwa bisnis menerima telepon di dalam theater, dengan suara lantang mirip ngko-ngko Glodok : “Iya… Iya… Tapi pasaran lebih rendah dari itu!!” Untung kejadian itu tidak berlangsung lebih lama, karena bisa-bisa penonton yang lain ada yang menawar DVD nantinya ke orang itu : “Ko… Ko… Beli dua gratis satu kan?

Dan film pun dimulai. Tepat ketika lembaga sensor menayangkan dirinya (itu lho yg ada tulisan : Lulus Sensor), bangku sebelahku yang tadinya kosong ternyata diisi oleh seorang anak kecil beserta seorang yang disinyalir adalah ibunya. Oh, firasatku langsung mengatakan : Warning! Warning! Anak kecil detected! Anak kecil detected!

Aku sempat terkejut di awal-awal, ternyata ada sepasang kakek nenek yang masuk ke theater. Ini Resident Evil lho, apa nggak takut jantungan ya mereka? Hmmm… worth to see. Lanjut ke anak kecil tadi, firasat buruk tadi langsung terbukti begitu film dimulai. Ketika di padang pasir ada ranting-ranting yang “menggelinding” (itu lho yang bentuknya jadi mirip bola ranting) tertiup angin, si anak langsung melakukan aksinya, sebagai berikut :

Anak Kecil : “Mama… mama… itu apa? Itu apaaaa tuhh…”
Mama : “Padang pasir itu..”
Anak Kecil : “Bukan, yang gerak tadi itu apaaahh??”
Mama : “Udah ah jangan berisik” (kayaknya si mama tadi juga nggak tau apa yang ditanya anaknya)

Tak lama kemudian, datanglah sang tokoh utama, Alice, (di film) dan memanah seorang (atau seekor, atau bahkan sebuah? Entahlah…) zombie. Dan si anak beraksi kembali :

Anak Kecil : “Ukhhh… itu mahluk apa sih Ma?”
Mama : “Zombie”
Anak Kecil : “Zombie itu apa?”
Mama : “Udah ah diem…” (kecele lagi dia, ga tau jelasin zombie gimana ya?)

*seketika di film, si zombie yang sudah terpanah didatangi gagak pemakan bangkai yang langsung mencungkil mata si zombie*

Anak Kecil : “Tuh Ma… Tuh Ma!! Kok bisa ada apa itu? Burung gagak?”
Mama : *hening*

Ukh, inilah sulitnya kalau nonton film di bioskop ada anak kecil. Dan yang aneh, ini kan bukan film buat anak-anak, tapi kok orang tua bawa aja ya anaknya ke bioskop, tidak sadarkah mereka bahwa itu bakalan mengganggu penonton lain? Dan lagi untuk anak sekecil itu menonton film Resident Evil yang penuh dengan kekerasan dan kekejian (maen sabet-potong-penggal macam film 300 namun ini versi zombie) menurutku sangatlah tidak pantas. Namun jangan berpuas diri dulu pemirsa, celoteh anak itu belumlah selesai sampai di sini…

*film berlanjut terus, konsentrasiku terbelah…*
Anak Kecil : “Mama… Mama… Sinchan mau nyusuuu”
Ehhh… maaf, salah skenario itu… ini skenario dari komik SinChan… maaf maaf… ini diralat ya…
Anak Kecil : “Mama… Mama… gini nih, tutup kuping aja, jadi nggak takut!”
Mama : *menoleh, lalu diem*
Anak Kecil : “Mamaaaa….”
*dengan tiba-tiba ada seekor/seorang/sebuah zombie menerjang (di film tentunya)*
Anak Kecil : *dengan bangga* “Tuh kan Ma, jadi ga kaget kalo tutup kuping, jadi nggak takut kan Ma?”
Mama : “Iya iya…” *lalu diam lagi dan makan popcorn*

*kemudian terlontar pertanyaan-pertanyaan polos si anak seperti berikut*

Anak Kecil : “Maa… itu kok ceweknya ada banyak?”
Anak Kecil : “Kok udah mati bisa idup lagi Ma?”
Anak Kecil : “Waaa… kaget… kaget…”

Dan satu lagi pertanyaan khas anak kecil yang hampir selalu terlontar kalo lagi nonton film :
Anak Kecil : “Mama… jadi ini siapa yang jahatnya dan siapa yang jago?”
Me : *GUBRAKKKK!!!!*

Uuuuhhhh…. this is such a bad idea, watching movie at the cinema and sitting next to a little child. Mana mungkin aku memarahi si anak, secara mamanya saja ada di sebelahnya malah diam-diam saja asyik makan popcorn. Anak seumur itu harusnya diajak menonton film animasi saja, semisal “Unyil The Movie”, “Dora The Explorer The Movie”, atau mungkin akan dibuat animasi “Mbing The Movie”?. Ingin rasanya kujitak saja kepala si anak yang berisik itu, tapi aku takut besoknya ada headline di koran harian nasional : “Seekor Mbing Ditemukan Tewas di Lantai Sebuah Studio di Theater 21, Disinyalir Karena Ditabok Ujung Sepatu Tante-Tante yang Membela Anaknya”. Kan nggak banget tuh headline? (btw memangnya ada ya headline sepanjang itu?)

Untunglah sound effect dari film tersebut semakin lama semakin dahsyat dan semakin berisik, sehingga mengurangi efek annoying dari anak tersebut. Dan aku pun cukup dapat menikmati sisa dari film tersebut, yang ternyata hanyalah 90 menitan karena serasa baru sebentar duduk sudah keluar lagi. Hahahahaha… Oh ya, si kakek dan nenek itu ternyata kuat juga, mungkin hobi mereka ketika muda adalah “Uji nyali” atau “Uka-Uka” sehingga Resident Evil tidak ada apa-apanya bagi mereka… hmmm… mungkin saja…

Mudah-mudahan ketika nonton lagi lain kali tidak duduk di sebelah anak kecil lagi, karena serba salah, mau negur juga ada orang tuanya, mau diabaikan juga terganggu. Kalau orang dewasa kan bisa ditegur, toh peraturannya juga dilarang ribut di dalam studio. Huhuhuhuhu… Anyway, RE 3 cukup boleh dibilang bagus, meskipun memang sense dari gamenya kurang terasa di sini. Layak ditonton lah pokoknya…

Pelajaran yang dapat dipetik :
Nonton di bioskop + anak kecil + mama cuek = bad idea!


Regards,
Xander™

Older Posts »

Blog at WordPress.com.