Kisah Bocah dengan Sang Bintang

Mind Production

Welcome… welcome… kali ini aku update blog nya cepet, soalnya memang lagi nggak ada kerjaan. Mungkin kali ini satu hari tanpa keluar kos… tanpa pergi cari makan, tanpa harus cuci kaki karena kena debu jalanan… hahahahaa…. Yap, maybe I’ll call this day as : Room Day. Everything is wrong, everything seems to be not right, when you don’t have anything to do. Jadi nggak sabar pulang kampung nih… tapi daripada nggak ada kerjaan lain, mendingan update blog, iya nggak?

Mungkin ada suatu cerita, yang terinspirasi dari complicatednya pikiranku yang memang merupakan inheritance dari kehidupanku yang complicated. Ceritanya seperti ini:
Ada seorang bocah kecil, kira-kira 8 tahun, sedang duduk-duduk di atas atap rumahnya, ditemani oleh kucing kesayangannya yang mungil dan gemuk. Petang itu, sekitar pukul 7, langit cerah, hanya sedikit awan yang mengintai. Bulan setengah penuh menyinari tempat di mana anak itu dan kucingnya duduk dan memandang ke langit, berusaha menghitung banyaknya bintang di langit (jangan bilang bodoh, toh dia rajin gitu ngitungin bintang… hahahaha). Suatu saat, dia sampai pada suatu bintang, yang mungkin sedang bersinar paling terang dan paling jelas saat itu. Ketika itu, sudah sampai pada hitungannya yang ke 625, dan dia berhenti karena kagum akan bintang itu. Sekian lama, dia terkagum dan terpana dengan keindahan bintang itu. Ketika dia melihat bintang itu, semua langit terasa gelap, semua bintang terasa mati, everything seems to be black, except one, that beautiful star.

Kira-kira 65 menit lamanya si anak melihat ke arah bintang itu. Saking terpesonanya, bocah tersebut sampai senyum-senyum sendiri (apa yang dia pikirkan ya… nggak tau lah, maklum baru 8 tahun…). Dia sampai tidak sadar, si kucing peliharaan, sudah meninggalkannya dari tadi. Mungkin dia kesal sang majikan tidak mengacuhkannya, dan dia pun pergi. Entah tidur, entah mencari makan, atau mencari kucing betina, karena si kucing itu adalah kucing jantan (kok aku tau ya itu kucing jantan? Jangan protes, cerita ini aku yang buat… hahahaha). Ketika sadar, sang anak itu mulai mencari si kucing, “pusss… pusss…. miauuuww…. miauuwww…”, dan tidak ada jawaban. Sekali lagi dia memanggil, tetap tidak ada jawaban. Kali ini, dia merasa kesepian. Si kucing pergi entah kemana. Sang bintang tetap bersinar cerah dan indah, namun tidak sedikitpun mendekat, dan sang bocah masih tetap harus menikmatinya dari jauh, tanpa bisa merangkulnya dan merasakan kehangatannya.

Tak lama kemudian, ayah dari si bocah datang ke atas, mencari anaknya yang tidak turun-turun, karena malam memang sudah larut. Kata sang ayah kepada si bocah,” Nak, sedang apa kau di atas sini, memandang bintang yang tidak jelas, seperti tidak ada kerjaan lain saja.” Jawab si bocah,”Ayah, aku jatuh cinta dengan bintang ini, bintang yang di sebelah sana itu ayah, cantik sekali kan?” Namun sang ayah menjawab dengan ketus, katanya,”Buat apa kamu lihat bintang, apalagi sudah malam seperti ini, yang ada, kamu malah sakit, sudah sudah! Sekarang, turun! Sudah waktunya tidur!” Sang anak berontak, tidak mau disuruh turun begitu saja, dia masih ingin bersama sang bintang, meskipun hanya melihat dari jauh, namun sepertinya dia merasa sangat bahagia (apa senengnya liat bintang coba, sampe bahagia gitu… hahahahaha). Sang ayah masih menceramahinya untuk sekitar 10 menit selanjutnya, namun mungkin karena kesungguhan hati anaknya, dia pun menyerah dan turun duluan.

Malam semakin larut, udara pun tentu semakin dingin (emangnya Jakarta, panas???). Dia sudah merasa pegal-pegal pada badannya, pasti masuk angin gara-gara angin malam yang kurang baik, namun dia masih sabar menemani si bintang, yang masih tak kunjung redup, membuai si bocah untuk tetap bersamanya. Dan ternyata, dia baru ingat, dia belum makan malam hari itu. Sekian banyak pengorbanan dia lakukan untuk melihat sang bintang, namun hatinya bahagia, meskipun sang bintang jauh di sana.

Setelah sekian lama, akhirnya ada suatu kejadian aneh, sang bintang meredup dan lalu hilang, lalu ada secercah sinar melesat, dan ternyata: bintang jatuh! Bintang tersebut telah berubah menjadi sebuah meteor! Dan ajaibnya, meteor tersebut mengarah ke si bocah kecil itu! Namun karena terkikis oleh debu angkasa, dan juga oleh lapisan atmosfer (belajar geografi dulu sebelum baca ini…. Hoahahahaha!) maka sang bintang yang sekarang meteor berubah hanya menjadi sebesar telur ayam, dan…..

“Bletak!”

Mendarat tepat di atas dahi sang bocah. Mimpinya kesampaian, sang bintang kini tidak jauh lagi, namun dekat dan dapat dia raih dengan tangannya. Namun kini dia tidak bahagia. Dia mendapati sang bintang tidak seperti bayangannya yang hangat, terang, menenangkan. Yang dia dapatkan hanya sebuah batu dingin, hitam kusam, bergerigi, dan membuat kepalanya benjol, mungkin untuk 2 minggu benjol tersebut tidak akan hilang. Kecewa, sang bocah memutuskan tidak melihat bintang lagi, karena bintang hanya penipu, awalnya saja terlihat baik, awalnya saja terlihat bagus, namun akhirnya apa yang ia dapatkan? Sakit dan kekecewaan.

Jadi, apa sebenarnya inti dari cerita ini? Tak lain dan tak bukan, masalah klasik dalam hidup, yakni jatuh cinta. Si bocah melihat bintang yang indah, dan jatuh cinta pada bintang itu. Bintang yang hangat, bersinar indah, namun jauh dan belum dapat dia jangkau. Beberapa hal, mungkin banyak hal dikorbankan demi meraih cinta. Teman, salah satunya. Si kucing yang merupakan hewan peliharaan terdekatnya, meninggalkannya karena merasa dinomorduakan. Lalu orang tua. Di sini timbul permasalahan baru. Orang tua terkadang menjadi overprotective terhadap anaknya. Misalkan orang tua dari daerah jawa mengatakan, jangan sampai anaknya menikah dengan orang dari daerah sumatera, soalnya orangnya keras-keras (emang batu keras… ), namun apa yang terjadi pada orang tua dari daerah sumatera? Ternyata mereka mengatakan hal yang sama pula pada orang jawa! Sangat ironis, kesubyektifan dalam diri mereka membutakan semuanya. Seperti yang terjadi pada si bocah, sang ayah melarang anaknya melihat bintang. Namun kadang anjuran orang tua tidaklah salah. Orang tua memang menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Maka segala anjuran orang tua, lebih baik dipertimbangkan matang-matang. Contohnya, sang bocah malah masuk angin dan sakit ketika mengabaikan anjuran ayahnya.

Back to masalah jatuh cinta, setelah sekian lama berjuang, akhirnya mimpi si bocah kesampaian, sang bintang “turun” dan menghampiri sang bocah. Namun yang didapat hanyalah sakit dan kekecewaan. Kadang, orang sudah berkorban begitu banyak demi orang yang dicintainya, namun yang dia dapatkan hanyalah sakit karena ditolak, ataupun kecewa karena sang pujaan tidak sesuai harapannya, karena apa yang dia perlihatkan sewaktu “bersinar nun jauh di sana” itu hanyalah kamuflase belaka agar orang tertarik padanya, dan ketika orang sudah tersedot oleh daya tariknya, sifat aslinya muncul. Masalah-masalah seperti itu dapat terjadi dalam hidup kan?

Aku juga bingung, entah kenapa aku bisa mengarang cerita sebegini aneh. Namun yang jelas, aku tidak ingin mengalami nasib yang sama seperti si bocah. Sebenarnya, ada sisi baik dari si bocah, dia tanpa kenal lelah, tanpa memikirkan dirinya sendiri, memberikan hatinya, cintanya, pada sang bintang, dan berkorban untuknya. Itu merupakan hal yang sungguh mulia yang dapat dilakukan seseorang terhadap pasangannya. Mudah-mudahan aku dapat seperti itu nantinya…

Oh iya, masih ada satu hal yang dapat diambil dari cerita itu. Di akhir cerita, sang bocah tidak mau melihat bintang lagi, dia menutup hatinya pada bintang, karena dia menggeneralisir bahwa semua bintang seperti itu. Aku yang lebih dewasa dari si bocah, tidak jarang melakukan seperti itu juga. Ketika ada seseorang atau bagian dari komunitas tertentu melakukan hal yang buruk, tidak jarang aku menyebut komunitas tersebut buruk, sama buruknya dengan orang yang melakukan keburukan tersebut. Padahal belum tentu kan seluruhnya buruk, mungkin hanya orang tersebut saja. Untuk menghindarinya, sepertinya berpikir positif itu sangat diperlukan ya… hohohoho….

Ngomong-ngomong, hari ini benar-benar hari yang aneh, bukan karena hanya room day saja, tapi aku dapat menulis cerita ini, tanpa merencanakannya terlebih dulu, mengalir begitu saja… so weird of me, Alex SHOCK!! Hoahahaha…. Daripada aku terus bertambah aneh, mungkin sebaiknya aku mengakhiri blog ini sampai di sini saja. Sampai jumpa di edisi selanjutnya…

Regards,

Xander™

5 responses to this post.

  1. Posted by BeD on July 24, 2006 at 12:24 pm

    Wekekeek keren kuga story nya…
    “Yah… begitulah cinta, deritanya tiada berakhir…”
    Hehehehe
    I’m Jakarta now… huehue

    Reply

  2. Posted by Xander on July 24, 2006 at 12:29 pm

    @bed:
    kok kayak pat kay aja…. hoahahahahaha…. welcome2…

    Reply

  3. Posted by Sang Pangeran Cinta on July 27, 2006 at 4:53 pm

    Hahahahaha…..
    Terkadang manusia memang gitu…
    Hanya melihat luarnya dan akhirnya menyesal setelah tau bagaimana yang aslinya..
    Saya pun begitu dulunya..
    Sangat dibutakan oleh keindahan cahaya bintang.. Dan tanpa saya sadari, perlahan2 bintang itu merusak diriku..
    Tapi untung saya tidak seperti sang Bocah yang menghindari melihat bintang lagi..

    Saya tetap menatap bintang hingga saat ini menemukan bintang lain yang sepertinya tidak akan jatuh lagi dan merusak diriku..
    Saking yakinnnya saya sampai bersemangat untuk berjuang menggapai bintang itu.

    Apakah bintang itu akan jatuh dan menjadi kesia-siaan?
    Entahlah.. Hanya Tuhan yang tahu dan akan terjawab seiring waktu..

    Hahahahaha… Teruslah berkarya Alekxs…

    Reply

  4. Posted by Xander on July 27, 2006 at 6:03 pm

    @pangeran cinta:
    wah ada yg sedang berusaha menggapai bintang… jia you….

    Reply

  5. Posted by Adrian "SpHyRnA" on July 30, 2006 at 1:32 pm

    ampe skrg g masih ga ngerti misteri angka yang merah2 itu…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: