About Religion

Mind Production


Kembali ke rumah juga membawa berbagai pemikiran baru, seperti yang baru saja kudapat tentang sesuatu yang sifatnya sangat azasi, yaitu agama.

Agama belakangan ini sering disalahgunakan menjadi media politik, dan sayangnya menjadi pemecah persatuan, bukannya pemersatu. Pemikiran ini bukan tanpa alasan. Sebagai contohnya, masalah yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan di berbagai negara akhir-akhir ini, yaitu masalah agresi Israel ke Palestina, dan bahkan ke Lebanon. Israel, yang melakukan agresi itu, oleh beberapa pihak dianggap melakukan agresi berdasarkan agama, ke orang-orang Muslim. Israel yang didaulat beragama Yahudi, dan Palestina dan juga Lebanon mewakili Islam. Namun intinya sebenarnya bukan pada masalah agama, politik belaka yang melatarbelakangi hal seperti ini. Dan politik itu membawa hal yang seharusnya tidak dibawa, agama.

Satu lagi yang menjadi perhatian, adalah ikut campurnya agama dalam keterlibatan Putri Indonesia di ajang yang disebut-sebut menjadi puncak prestasi kaum wanita di dunia, Miss Universe. Dengan kegagalan memalukan Putri Indonesia kita (“Indonesia is a beautiful city… “ what a shame!) ditambah lagi dia mengenakan baju renang two piece, lengkaplah sudah, nama agama dibawa-bawa, padahal negara kita bukan negara agama, lebih masuk akal kalau yang dijadikan alasan itu budaya kita, budaya ketimuran. Hmmm… what an interesting fact. Kita lihat saja apa yang terjadi dengan Putri Indonesia yang baru, ketika berlaga di ajang yang sama, berikut segala kontroversinya.

Ketika aku berada di kota kelahiranku, aku seperti biasa mengikuti misa (kebaktian) di gereja. Ketika aku sedang mengikuti misa, yang kebetulan dimulai jam 5 sore, sewaktu menjalani doa syukur, terdengar suara Adzan Maghrib dari mesjid terdekat. Lalu tiba-tiba ada pikiran melintas di kepalaku. Bagaimana dengan umat Kristiani yang memang tinggal di negara yang mayoritas warganya adalah Kristiani? Apakah mereka akan mengalami seperti yang aku alami? Tentunya tidak, mereka akan menjalani misa tanpa terdengar suara Adzan seperti di sini. Aku bersyukur dilahirkan di Indonesia, karena aku dapat mengalami pengalaman seperti ini. Bagaikan sebuah tim sepakbola, misalkan Brazil, yang dihuni pemain-pemain yang mengalami cobaan selama berlatih, seperti berlatih di jalanan, tanpa fasilitas dan sarana yang memadai untuk menjadi pemain hebat, namun faktanya, dengan rintangan itu, mereka menjadi jauh lebih hebat dibandingkan pemain-pemain yang dimanjakan fasilitas. Seharusnya hal yang sama berlaku juga di sini. Namun ternyata kadar keimanan tidak dapat diukur seperti itu. Biarpun tidak mendapat sarana yang lebih baik seperti di negara lain, kualitas iman tidak berarti lebih baik, bahkan menurutku jauh di bawah kata baik. Termasuk aku sendiri, aku hanya baru sampai tahap melihat, belum sampai tahap bertindak untuk memperbaiki. Mudah-mudahan aku dapat memperbaiki diri seiring bertambahnya usia.

Ada suatu kejadian lucu ketika aku berada di Tasikmalaya. Hari itu aku sedang bermain badminton di GOR bersama teman-temanku. Nah, kebetulan shuttlecocknya habis. Ketika aku keluar untuk membeli cock ke toko olahraga, aku bertemu rombongan orang-orang yang mengatasnamakan salah satu kelompok Muslim di Tasikmalaya yang sedang berunjuk rasa menentang agresi kaum zionis Israel ke Lebanon. Dan kebetulannya lagi, salah satu dari mereka adalah temanku sewaktu bersekolah di SMA Negeri 1! Selagi rombongan itu berjalan, dia menyebrang jalan, dan menemuiku untuk sekedar ngobrol dan menanyakan kabar masing-masing. Yang lucunya, banyak dari rombongan itu menatapku. Mungkin mereka heran, kok rekannya punya teman orang chinese, yang mungkin memang jarang yang beragama Islam. Di sini permasalahan antara agama mulai terlihat lagi.

Aku sempat bersekolah di sekolah negeri. Kesan yang kudapatkan ketika bersekolah di sana, yang notabene dihuni oleh mayoritas Muslim, sangat baik. Aku tidak mendapatkan perilaku yang diskriminatif. Teman-temanku yang Muslim sama juga dengan teman-teman yang lain. Aku bersyukur mendapat pengalaman seperti itu, karena apabila tidak masuk ke sekolah negeri, mana mungkin aku mendapat pengalaman bergaul dengan orang-orang berlainan agama. Kami sering berbincang-bincang, berdialog, secara santai tentunya, dalam masalah agama. Saling mengetahui agama lain itu penting, bukan berarti untuk menarik seseorang ke agama yang dianut, ataupun bukan berarti untuk pindah ke agama orang tersebut, namun untuk memperluas wawasan tentang agama lain, ternyata maksudnya pun sama, melaksanakan kebaikan. Bila tertutup pada lingkup agama masing-masing, maka apabila ada berita miring tentang agama lain, orang mudah percaya, karena memang pengetahuannya minim. Tapi apabila sudah tau, dan mengalami sendiri, bukankah lebih enak? Temanku yang Muslim (kebetulan pula orangnya adalah yang sedang unjuk rasa itu) malah pernah mengikuti misa di gerejaku dulu, hanya sekedar ingin tahu seperti apa agama Katholik itu. Aku sangat menghargainya. Dengan begitu, hubungan antar umat beragama makin baik, kan?

Aku merasa heran, agama itu berasal dari “a” yang berarti tidak, dan “gamma” yang berarti kekacauan (CMIIW), namun yang terjadi adalah, karena agama orang bisa saling hina, bisa saling mencaci, bisa saling merusak, bahkan saling membunuh satu sama lain. Sebenarnya apa yang diperjuangkan dalam sebuah agama? Sebelumnya, ada temanku juga, kali ini sama-sama beragama Katholik, namun dia mengikuti sebuah persekutuan di sini, di Jakarta ini. Dan yang mengejutkan, dan menjadi pemikiranku selama ini, adalah ketika seseorang memasuki persekutuan tersebut, seakan-akan orang tersebut menjadi suci, sehingga dapat menjudge orang lain, sesuai dengan apa yang ia percayai. Ketika dia ngobrol-ngobrol denganku, dan lama kelamaan nyambung dengan obrolan tentang iman, aku bertanya begini: “Sebenarnya, lu itu beragama tujuannya apa?” Lalu dia menjawab seperti ini : “Supaya lebih dekat dengan Tuhan, menjalankan segala kebaikan yang diperintahkan Tuhan, bla bla bla…” dan seterusnya dan seterusnya yang menjadi pengetahuan umum semua orang. Aku berpikir, sebenarnya, bila tidak ada NERAKA, apakah manusia akan beragama? Manusia beragama karena TAKUT MASUK NERAKA. Logis kan. Apakah di belakangnya ada tambahan, untuk lebih dekat dengan pencipta lah, lebih mengenal pencipta lah, itu dapat berkembang di kemudian hari sesuai sejauh mana individu tersebut meningkatkan kualitas keimanannya. Namun, apakah Tuhan menghendaki bahwa umat-Nya memeluk agama (terlepas dari apa agamanya, menurutku semua agama baik adanya, apabila dapat hidup saling berdampingan tanpa menyakiti satu sama lain) karena takut oleh neraka yang semata-mata hanya ciptaan Tuhan, ataukah takut pada-Nya? Mungkin pembaca dapat menjawabnya sendiri.

Agama memperjuangkan kebaikan. Simple. Bila umat manusia terpecah belah, saling menyakiti, apalagi berdasarkan agama, itu sudah merupakan penyelewengan yang amat sangat dari tujuan semula, yaitu a gamma = membuat tidak kacau. Melalui tulisan ini, aku tidak bermaksud mengganggap aku mengerti keinginan Tuhan, karena kalau begitu, aku adalah Tuhan, sebab sudah dapat mengerti apa misteri dari Tuhan yang maha segalanya. Aku hanya mengungkapkan pikiran manusiawiku, mengenai religi yang dianggap suci, namun kenyataannya sekarang diselewengkan menjadi alat kekuasaan semata.

Pesan yang ingin aku sampaikan sebenarnya sederhana: Jangan menjadikan agama sebagai alat pemecah, jadikan agama sebagai alat pemersatu.

Tuhan memberkati bangsa ini.

Regards,

Xander™

11 responses to this post.

  1. Posted by shanaou on September 1, 2006 at 10:29 am

    Nice story, Lex, emang bnr pendapat kamu… aku setuju… jgn ada prasangka negatif antara agama 1 dengan yang lain, kan semua agama mengajarkan hal yang baik kepada umatnya🙂

    Reply

  2. Posted by chien on September 1, 2006 at 5:51 pm

    ah dasar cina siah…
    wakkakkak……
    ges cina kristen deui
    mau jadi apa kamu…
    wakakkak

    Reply

  3. Posted by Xander on September 1, 2006 at 7:17 pm

    @shanaou:
    hahahaa… tul2 jim….

    @chien:
    rusak nya… wakakakkaka…

    Reply

  4. Posted by Wandy Eka Pranata on September 2, 2006 at 4:02 am

    Yang terpenting adalah apa yang kamu percayai, taatlah kepada hal itu.. Milikilah iman..
    Taat dan sayang Tuhan..
    Kasihi sesama..

    Kita semua itu sama di hadapan Tuhan.. Yang membuat beda itu mungkin cuma status dan taraf hidup.. Di mata Tuhan semuanya sama.
    Jangan bangga dengan agama yang dianut, tapi banggalah karena memiliki Tuhan yang benar..

    Reply

  5. Amin…😀

    Reply

  6. Posted by Xander on September 3, 2006 at 2:58 pm

    @wandy:
    bukannya fanatik terhadap agama itu perlu, hanya jangan berlebihan?

    @bed:
    amin jg deh bed… hehehehe…

    Reply

  7. Posted by Hans on September 3, 2006 at 6:04 pm

    Chien ulah galak teuing atuh, karunya si alex tuh ges kasieunan… hehehehehe….

    Reply

  8. Posted by Henz on September 4, 2006 at 11:44 pm

    yang terpenting adalah gimana kita punya pengalaman hidup yang bener sama Tuhan..bisa praktek semua yang bener di mata Tuhan…
    hidup dengan iman…
    ^^
    agama bukan jg jadi alasan untuk seseorang memecah belah persatuan, bukan dijadikan sesuatu untuk memojokkan orang lain…
    carilah pengalaman dengan Tuhan.
    GBU…

    Reply

  9. Posted by Anonymous on September 5, 2006 at 12:03 pm

    apa bedanya ‘fanatik’ dan ‘berlebihan’?

    Reply

  10. Posted by Xander on September 5, 2006 at 1:12 pm

    @hans:
    enya euy chien galak2… hahahaha….

    @henz:
    aku setuju, kalo semua orang mikirnya seperti ini, kayaknya dunia bakalan damai.. haahahaha….

    @anonymous:
    jelas beda donk, fanatik itu rasa memiliki terhadap suatu benda atau orang atau kelompok tertentu, sehingga menjadi salah satu ciri khas gitu, seperti pendukung sepakbola yang fanatik. Namun kalo berlebihan, akibatnya akan lain, karena akan melihat kelompok lain itu salah, sedangkan kelompok dia paling benar… begitu menurutku…

    Reply

  11. Posted by halfscience999 on February 18, 2009 at 12:25 am

    God is friend for all humankind unless humans want God to be their enemy (??!?)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: