Worst-Great Day

Cerita-cerita…

Kata orang dulu, tiap orang punya hari jelek. Dan kebetulan, sewaktu kecil aku pernah dibawa ke orang pintar oleh nenekku, dan disebutkan bahwa hari jelekku adalah hari Rabu. Dan entah mengapa memang kejadian-kejadian buruk yang menimpa diriku kebanyakan terjadi di hari Rabu. Seperti yang terjadi Rabu kemarin….

Rabu tanggal 4 April 2007, aku bangun pagi dan pergi ke kampus untuk presentasi tugas Arsitektur dan Organisasi Komputer (disingkat ARKOM). Dengan berbekal ilmu dari Mbah Dukun Andreas sehari sebelumnya, aku meminta presentasi kelompokku dilaksanakan terlebih dahulu karena aku berencana pergi ke tempat aku akan melakukan KP (baca : Kerja Praktek, bukan Kerja Paksa ya…). Akhirnya dengan penjelasan Ala Kadir… eh maksudku alakadar, aku menyelesaikan presentasi dengan huruf G+ terpampang di kertas nilai di samping namaku. G+? Apa itu? Entahlah, bisa diartikan Great+, atau Good+, atau Goblok+, mungkin juga Garing+… yah itu terserah dosen sih, emang GG dia… (baca Gondrong Gila… Copyrighted© – Aryo 2007)

Setelah presentasi, aku melesat ke kos untuk siap-siap pergi ke tempat KP. Berganti pakaian ke pakaian resmi (rapi dikit lah supaya keliatan niat kerja…), lalu siap-siap berangkat, dan masalah pertama muncul. Masalah pertama itu adalah tinta printer habis a.k.a garing. Padahal saat itu aku harus print CV kelompok kami. Alhasil harus meminjam printer Tani untuk print CV milik Woll. Masalah satu beres, dateng lagi masalah dua. Motorku sendiri tidak dapat keluar. Ternyata kunci cakram yang aku baru beli itu rusak. Sama sekali tidak dapat dibuka. Wadefak with the damn key… Setelah 10 menit lebih berpeluh berusaha membuka kunci sendiri, aku menyerah dan meminjam motor salah satu anak kos untuk dipakai.

Perjalanan jauh pun dimulai (sebenarnya aku tertipu, bukan perjalanan jauh.. tapi perjalanan amit-amit jauhnya…). Pertama, aku menuju ke checkpoint dimana aku akan bertemu salah satu teman kelompok kami yang bernama Kur (bukan burung tekukur ya…). Dengan berbekal peta buta dan arahan kacau dari Kur (katanya dari slipi lurus lalu ketemu kali yang sampe ujung pun ga keliatan ada kali…), sampailah kita di chekpoint itu lalu join party dengan Kur. Dari situ aku sudah tidak meraba-raba rute lagi, karena rutenya ternyata sama dengan yang Djadul beritahu saat aku ke Kelapa Gading. Nah, perlu diingat, bahwa perjalanan terjauhku dengan motor adalah dari kos ke Gading. Kali ini, Gading hanya menjadi checkpoint kedua. Setelah mencapai Gading, kita masih lurus dan lurus dan lurusssss…..

Sampailah di Pulo Gadung, lurussss lagi, sampailah di Cakung, lalu belok kiri ke Cilincing, dan lurusssssss… baru deh ketemu tempat KPnya… deket ya? Setelah sampai, ternyata karyawan sedang tidak ada di tempat karena sudah waktunya makan siang (dari kos menuju tujuan menghabiskan waktu hampir 2 jam lamanya…). Kami pun mencari makan siang di kawasan gurun itu. Ada satu tempat (gubuk tepatnya), yang menjual makanan, maka seorang Hygiene Man Wolloam pun terpaksa makan di tempat yang tidak layak disebut bersih. Apa boleh buat, lapar tidak dapat ditahan lagi….

And then, when we have had our lunch, we’re going back to the office. Kita bertemu dengan bagian HRD dari perusahaan itu dan dibawa ke bagian IT-nya. Disana kita masih harus menunggu lagi untuk mendapat kesempatan berbicara dengan kepala divisi IT-nya. Akhirnya kesempatan itu datang. Dan kami dikagetkan dengan bahasa dewa yang diucapkan oleh beliau, asli sama sekali nggak ngerti…. Kami pun ditanya lagi, “Jadi kalian mau kerjanya gimana? Setiap hari kesini?”, dalam hati aku berpikir kalo tiap hari aku kesini, bisa mati muda…. ga tahannnnn….

Setelah muter-muter (pembicaraannya, bukan orangnya), kami dipanggil lagi untuk presentasi minggu depannya. Tapi keputusanku dan Woll ternyata berbeda, selamat tinggal Cilincing… selamat tinggal PT bla bla…. (censored)…

Masalah lain datang ketika pulang. Hujan kembali menghadang, dan kali ini lebih lebat. Alhasil pakaian kami yang rapi, ketika pulang berubah 180 derajat menjadi semi gelandangan. Aku sempat melakukan atraksi cari mati dengan menerobos jalur truk demi menghindari polisi yang sudah menanti untuk menilangku. Untung saja Tuhan masih melindungiku… dan setelah itu aku mendapat acungan jempol dan teriakan “Kerennnn” dari si Kur, emang geblek tu anak… hahahahahah….

Lalu ada lagi satu peristiwa konyol yang terjadi, seperti ini posisinya…
Kur mengikutiku yang membonceng Woll dari belakang. Namun karena genangan air hujan, maka motorku menyipratkan air ke arah wajah Kur. Karena menghindari itu, dia mengambil jalur kanan sebelah pembatas BusWay. Sialnya, di jalur BusWay melintas sebuah bus dengan kecepatan tinggi, yang menyipratkan air dalam jumlah cukup untuk membuat seorang Kur mencak-mencak karena mengguyur seluruh tubuhnya…

Aku dan Woll : (sambil membuka kaca helm dan menoleh ke belakang) *Ngakak…*
Kur : “Sialannnnn…”

Lalu setelah ngetawain si Kur, kami pun balik menatap ke depan… dan….

BYUR!!!

Seekor bus sialan melintas di sebelah kiriku dan menyipratkan air tepat ke wajahku dan ke badan kami.

Kur : *ketawa puas* “Mampus lo, makanya jangan ketawa dulu… wkakakakaka….”

Memang sial tidak dapat dihindari, itu yang menyebabkan kami pulang dengan penampilan semi gembel dan kepala sakit kedinginan.

Hmmm…. apakah ada hubungan dengan Bad Wednesday atau ini hanya kurang beruntung saja, tapi yang jelas, aku akan mengingat hari itu dalam memoriku. Sebab aku melakukan perjalanan terjauh dengan motor ke Cilincing, yang mematahkan perjalananku ke Kelapa Gading, meskipun kurang menyenangkan kali ini…

Hari ini Kamis 5 April (sebenarnya sudah jam 12 lewat jadi sudah Jumat 6 April) aku ke gereja mengikuti misa Kamis Putih. Seperti biasa, 3 hari suci Paskah itu merupakan hari raya yang paling berarti buatku sejak kecil. Entah kenapa, misa 3 hari suci itu selalu semangat untuk kuikuti. Maka ketika Tani mengajak-ku untuk misa di kampus, aku menolaknya karena aku rasa misa ini special, maka aku akan melaksanakannya ‘properly’ di tempat yang aku rasa memang cocok. Yah mungkin terdengar childish, bertemu Tuhan kan bisa di mana saja, tapi bagiku suasananya lebih terasa apabila aku mengikutinya di Gereja.

Hari ini juga seseorang datang… dan entah mengapa, aku merasa jadi pecundang di sini, mungkin karena aku terlalu negatif thinking? Atau aku terlalu egois? Dan di gereja tadi pun aku mendapat pemikiran yang mungkin akan menggangguku beberapa saat ke depan… Thx buat sarannya Dul, tapi aku masih ragu… dan keragu-raguan itu sulit dihilangkan…

That’s for now, mudah-mudahan misa Jum’at Agung bisa dapat tempat karena biasanya selalu kebagian di aula… GBU….

Regards,

Xander™

One response to this post.

  1. Posted by BeD on April 7, 2007 at 12:09 am

    wah… sabar..sabar… ^^ huehuehue
    btw.. gila aja klo ampe tiap hari kp di cilincing… huehue…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: