Aku Melintasi Malam Sepiku…

Can’t sleep…

This is a time to sleep, indeed, but even I’m trying to sleep, my eyes won’t close…
Di saat semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, hanya blog ini yang bisa mendengar semua keluh kesahku…

“Kau bukan hanya sekedar indah…
Kau tak akan terganti…”

Sebuah petikan lagu dari Dea Mirella, yang berjudul Takkan Terganti. Memang mencintai orang itu merupakan hal yang paling unik dalam hidup. Setiap orang yang pernah kau cintai pasti memiliki kenangan tersendiri, dan orang itu akan menjadi special dalam hidupmu, walaupun di sisimu sudah ada orang lain, yang juga saat itu menjadi yang paling special dalam hidupmu. Hal ini aku dapatkan dari mbak Tiara Lestari, ketika aku menonton acara Kick Andy di layar televisiku tadi malam. Tiara Lestari dapat menuliskan kehidupan cinta dengan mantan pacarnya secara gamblang dalam bukunya (mudah-mudahan aku dapat buku gratisan dari Kick Andy), meskipun saat itu dia sudah menikah dan memiliki suami. Hal ini patut diberi acungan jempol, sebab memang sang suami memiliki kebesaran hati yang sangat terhadap istrinya… dan juga trust tentu saja.

Mungkin demikian juga dengan aku sendiri. Setiap orang menjadi special dengan caranya sendiri. Apabila aku bilang, aku harus melupakan dia agar dapat mengikis perasaanku terhadapnya, maka sebenarnya itu hanyalah omong kosong belaka. Aku tidak pernah dapat melupakan seseorang yang pernah mengisi hatiku. Tapi bukan, bukan dalam arti yang negative. Setiap cinta yang pernah mengisi hatiku, menjadi kenangan yang mungkin menyakitkan memang, namun juga terkadang ketika mengingatnya dapat membuatku tersenyum. Ah, love is misterious… isn’t it?

Namun terkadang keegoisan mengalahkan segalanya. Orang bilang cinta itu buta. Ya aku akui itu benar. Tapi apakah dengan menjadi buta, kita tidak dapat merasakan lingkungan sekitar kita, kita tidak dapat bertoleransi dengan sesama kita? Ada seseorang yang terlihat semakin egois di saat dia sedang jatuh cinta. Terkadang dia tidak dapat menerima apa yang orang perbuat padanya, meskipun terkadang dia perbuat juga pada orang lain, tanpa dia sadari tentunya. Sadarlah sobatku. Memang trauma masa lalu mungkin memberikan efek “I don’t want to lose her this time!”, tapi…cinta yang membuatmu menjadi egois bukan cinta yang baik, jadi jangan sia-siakan cintamu dengan membuatmu semakin buruk. Kau tidak hidup di dalam hatinya saja, namun juga di kekacauan dunia ini…

Ada juga yang mencintai sampai berkorban dan melihat dunia ini hanya demi dia. Cinta tulus. Namun seperti Tani katakan dulu, dan akhir-akhir ini aku rasakan juga cukup benar, menjalin hubungan itu haruslah mutualisme. Ketika sudah ada salah satu pihak yang terkesan tidak dianggap, atau bahkan dirugikan, maka hubungan itu akan sulit berlanjut ke tingkat selanjutnya. Yah, omonganku yang tidak berpengalaman di bidang cinta memang tidak dapat dijadikan pegangan memang… namun aku hanya ingin melihat teman-temanku dapat tersenyum bahkan tertawa senang, karena mereka adalah teman-temanku yang terbaik, yang ada saat aku jatuh… See? I have marvelous friends!

Kebesaran hati dan kekuatan untuk hidup, sekali lagi menjadi hal yang aku pikirkan dan aku renungkan akhir-akhir ini. Memang aku belum dapat menghadapi semuanya. Jujur, aku belum siap apabila menghadapi “matahari”. Biarpun seharusnya, secara logika, aku tidak boleh menghindari dia, aku tidak boleh menyingkirkan dia, namun entah mengapa setiap aku melihatnya, perasaanku selalu berkata “negative”. Aku berusaha mengubahnya, namun aku tak mampu. I think I need some time to change it, so I can face the reality and bring down the past.

Terkadang ketika aku memiliki masalah, aku bersikap seolah-olah aku sangatlah lemah, bahwa aku sangatlah pathetic, bahwa aku sangatlah “down”. Padahal di luar sana, mungkin saja teman-temanku memiliki masalah yang sama beratnya, atau mungkin lebih berat dariku dan mampu tersenyum serta mensupportku. Aku merasa malu saat itu. Mengapa aku bersikap seolah-olah aku perlu diperhatikan. Padahal aku seharusnya juga memikirkan teman-temanku. Padahal aku juga seharusnya mengerti keadaan mereka. Aku seakan menganggap masalahku paling urgent, paling penting, dan paling menyakitkan, sehingga aku tak menyadari semuanya. Aku juga lupa, aku memiliki Tuhan yang selalu ada, namun tak pernah kupanggil. Father, I need Your mercy…

Beberapa hari yang lalu, ada seorang mahasiswa KorSel mengamuk di kampusnya, dan membunuh beberapa puluh orang dengan pistolnya. Dia memiliki interpretasi yang salah tentang hidup, dan tentang cinta tentunya. Dia dibutakan oleh anggapan bahwa cinta haruslah equal, bahwa hidup pun haruslah equal, dan dia tidak dapat menyadari bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk hidup. Bahwa setiap orang memiliki hak masing-masing untuk hidup dengan cara yang berbeda. My deep condolences for those who died in that accident… especially for Mr.Mora from Indonesia, rest in peace….

Sekali lagi, memang cinta dapat membutakan semuanya. Tapi bukan berarti bahwa kita harus egois, namun bukan berarti bahwa kita juga tidak dapat memikirkan diri sendiri dan segalanya hanyalah untuk dia. Semuanya haruslah seimbang. Toh kita hidup tidak sendiri, masih ada teman-teman yang juga berinteraksi dengan kita, masih ada orang tua, masih ada rekan kerja, teman kuliah, dan banyak lagi… Saat ini aku berbicara demikian, karena mungkin aku tidak merasakan hal-hal seperti itu, namun aku merasa sedih apabila salah satu temanku melakukan demikian. Jadi apabila aku juga melakukan hal yang sama, tolong ingatkan aku, dan jangan ragu mengembalikanku ke jalan yang seharusnya aku jalani….

Trauma mencintai, aku rasa aku belum sampai ke tahap itu. Namun, mencintai seseorang (pada kasus seperti yang aku alami) memang sakit, dan itu menjadi pengalaman dan mungkin memberikan rasa segan untuk mencintai lagi. Apakah hasilnya akan seperti ini lagi? Apakah aku harus selalu disakiti? Hidup memang complicated. Tentu saja aku tidak takut mencintai, namun mungkin aku harus lebih menjaga perasaanku saja….

OMG, ternyata sudah jam 3 pagi. Aku harus tidur, karena masih ada ujian jam 10 pagi nanti, semoga aku tidak terlambat. My wish for this time : Good mark. Terimakasih blog, telah menjadi tempat berceritaku, hingga saat ini… juga terimakasih teman-teman, karena telah bersamaku sampai saat ini… terimakasih Tuhan, karena selalu bersamaku meskipun aku sering menghindar dan lupa akan Dirimu…

Last, from Delon in Aku Masih Cinta :
“Aku masih cinta bila kau bertanya…
Ini perasaan yang sulit kuungkapkan…”

Regards,

Xander™

2 responses to this post.

  1. Posted by Wandy on April 21, 2007 at 3:02 am

    Begitulah cinta….
    Saya setuju dengan yang namanya mutualisme… Cuman kalo udah cinta, rasanya susah untuk memikirkan tentang mutualisme..
    Itulah yang namanya Cinta yang membutakan kalbu.. ^^

    Reply

  2. Posted by BeD on April 21, 2007 at 1:12 pm

    🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: