Resident Evil 3 : Extinction – featuring commentary : “Undead” Child and His Mom

Judul yang bagus bukan? Sangat ilmiah kelihatannya. Bagi seorang kambing menuliskan judul sebagus ini sangatlah aneh bukan? Yup, sudah-sudah, cukup membanggakan judul yang bahkan tidak perlu aku banggakan sama sekali. Toh faktanya hanyalah judul saja yang keren, tapi kejadian di balik itu boleh dibilang “Mbing Bad Luck of-the-Day”.

Hari Selasa ini, kondisi badan udah mulai mendingan. Setelah sakit tenggorokan (yang diduga radang tenggorokan karena Mbing jarang melahap sayuran dan lebih banyak melahap sambal) dari hari Minggu, yang juga membawa dampak aku tidak ikut ke acara ultahnya Amel (sori Mel, tapi makasih mie baksonya, kekenyangan waktu itu), aku merasa hari ini saatnya untuk……………………………………………….. mencuci pakaian! Lho!?!?! Kok mencuci? Kapan cerita tentang RE 3? Tenang-tenang, secara pembantu di kos udah pulang kampung, maka aku dengan rendah dada dan lapang hati, mencuci baju-bajuku sendiri dan kemudian menjemurnya di lantai 4 (baca: tempat jemuran).

Selesai dengan cuci mencuci (kalau kelamaan bisa jadi lemot, karena konon Mr.Wandy Pangeran “Lemot” Cinta menjadi lemot karena kelamaan mencuci), rencana selanjutnya adalah nonton RE 3 yang sudah tertunda beberapa kali. Singkat cerita, sampailah aku bersama Mr.Wandy Pangeran “Lemot” Cinta di TAgo. Nggak tau TAgo? Itu tuh TA (Taman Anggrek) goblooooooooooookkkk…. hihihihihi…..

Sesampainya di TA, setelah mengambil ATM, ehh upss… mengambil uang di ATM sekaligus bayar hutang (malu-maluin bayar hutang aja sampe diketik), langsunglah kami bergegas ke 21. Begitu masuk, theater masih kosong, namun tambah lama semakin banyak orang yang datang, sampai-sampai ketika masih diputar trailer-trailer film, ada seorang anak muda yang sok berjiwa bisnis menerima telepon di dalam theater, dengan suara lantang mirip ngko-ngko Glodok : “Iya… Iya… Tapi pasaran lebih rendah dari itu!!” Untung kejadian itu tidak berlangsung lebih lama, karena bisa-bisa penonton yang lain ada yang menawar DVD nantinya ke orang itu : “Ko… Ko… Beli dua gratis satu kan?

Dan film pun dimulai. Tepat ketika lembaga sensor menayangkan dirinya (itu lho yg ada tulisan : Lulus Sensor), bangku sebelahku yang tadinya kosong ternyata diisi oleh seorang anak kecil beserta seorang yang disinyalir adalah ibunya. Oh, firasatku langsung mengatakan : Warning! Warning! Anak kecil detected! Anak kecil detected!

Aku sempat terkejut di awal-awal, ternyata ada sepasang kakek nenek yang masuk ke theater. Ini Resident Evil lho, apa nggak takut jantungan ya mereka? Hmmm… worth to see. Lanjut ke anak kecil tadi, firasat buruk tadi langsung terbukti begitu film dimulai. Ketika di padang pasir ada ranting-ranting yang “menggelinding” (itu lho yang bentuknya jadi mirip bola ranting) tertiup angin, si anak langsung melakukan aksinya, sebagai berikut :

Anak Kecil : “Mama… mama… itu apa? Itu apaaaa tuhh…”
Mama : “Padang pasir itu..”
Anak Kecil : “Bukan, yang gerak tadi itu apaaahh??”
Mama : “Udah ah jangan berisik” (kayaknya si mama tadi juga nggak tau apa yang ditanya anaknya)

Tak lama kemudian, datanglah sang tokoh utama, Alice, (di film) dan memanah seorang (atau seekor, atau bahkan sebuah? Entahlah…) zombie. Dan si anak beraksi kembali :

Anak Kecil : “Ukhhh… itu mahluk apa sih Ma?”
Mama : “Zombie”
Anak Kecil : “Zombie itu apa?”
Mama : “Udah ah diem…” (kecele lagi dia, ga tau jelasin zombie gimana ya?)

*seketika di film, si zombie yang sudah terpanah didatangi gagak pemakan bangkai yang langsung mencungkil mata si zombie*

Anak Kecil : “Tuh Ma… Tuh Ma!! Kok bisa ada apa itu? Burung gagak?”
Mama : *hening*

Ukh, inilah sulitnya kalau nonton film di bioskop ada anak kecil. Dan yang aneh, ini kan bukan film buat anak-anak, tapi kok orang tua bawa aja ya anaknya ke bioskop, tidak sadarkah mereka bahwa itu bakalan mengganggu penonton lain? Dan lagi untuk anak sekecil itu menonton film Resident Evil yang penuh dengan kekerasan dan kekejian (maen sabet-potong-penggal macam film 300 namun ini versi zombie) menurutku sangatlah tidak pantas. Namun jangan berpuas diri dulu pemirsa, celoteh anak itu belumlah selesai sampai di sini…

*film berlanjut terus, konsentrasiku terbelah…*
Anak Kecil : “Mama… Mama… Sinchan mau nyusuuu”
Ehhh… maaf, salah skenario itu… ini skenario dari komik SinChan… maaf maaf… ini diralat ya…
Anak Kecil : “Mama… Mama… gini nih, tutup kuping aja, jadi nggak takut!”
Mama : *menoleh, lalu diem*
Anak Kecil : “Mamaaaa….”
*dengan tiba-tiba ada seekor/seorang/sebuah zombie menerjang (di film tentunya)*
Anak Kecil : *dengan bangga* “Tuh kan Ma, jadi ga kaget kalo tutup kuping, jadi nggak takut kan Ma?”
Mama : “Iya iya…” *lalu diam lagi dan makan popcorn*

*kemudian terlontar pertanyaan-pertanyaan polos si anak seperti berikut*

Anak Kecil : “Maa… itu kok ceweknya ada banyak?”
Anak Kecil : “Kok udah mati bisa idup lagi Ma?”
Anak Kecil : “Waaa… kaget… kaget…”

Dan satu lagi pertanyaan khas anak kecil yang hampir selalu terlontar kalo lagi nonton film :
Anak Kecil : “Mama… jadi ini siapa yang jahatnya dan siapa yang jago?”
Me : *GUBRAKKKK!!!!*

Uuuuhhhh…. this is such a bad idea, watching movie at the cinema and sitting next to a little child. Mana mungkin aku memarahi si anak, secara mamanya saja ada di sebelahnya malah diam-diam saja asyik makan popcorn. Anak seumur itu harusnya diajak menonton film animasi saja, semisal “Unyil The Movie”, “Dora The Explorer The Movie”, atau mungkin akan dibuat animasi “Mbing The Movie”?. Ingin rasanya kujitak saja kepala si anak yang berisik itu, tapi aku takut besoknya ada headline di koran harian nasional : “Seekor Mbing Ditemukan Tewas di Lantai Sebuah Studio di Theater 21, Disinyalir Karena Ditabok Ujung Sepatu Tante-Tante yang Membela Anaknya”. Kan nggak banget tuh headline? (btw memangnya ada ya headline sepanjang itu?)

Untunglah sound effect dari film tersebut semakin lama semakin dahsyat dan semakin berisik, sehingga mengurangi efek annoying dari anak tersebut. Dan aku pun cukup dapat menikmati sisa dari film tersebut, yang ternyata hanyalah 90 menitan karena serasa baru sebentar duduk sudah keluar lagi. Hahahahaha… Oh ya, si kakek dan nenek itu ternyata kuat juga, mungkin hobi mereka ketika muda adalah “Uji nyali” atau “Uka-Uka” sehingga Resident Evil tidak ada apa-apanya bagi mereka… hmmm… mungkin saja…

Mudah-mudahan ketika nonton lagi lain kali tidak duduk di sebelah anak kecil lagi, karena serba salah, mau negur juga ada orang tuanya, mau diabaikan juga terganggu. Kalau orang dewasa kan bisa ditegur, toh peraturannya juga dilarang ribut di dalam studio. Huhuhuhuhu… Anyway, RE 3 cukup boleh dibilang bagus, meskipun memang sense dari gamenya kurang terasa di sini. Layak ditonton lah pokoknya…

Pelajaran yang dapat dipetik :
Nonton di bioskop + anak kecil + mama cuek = bad idea!


Regards,
Xander™

10 responses to this post.

  1. Posted by Alva on October 11, 2007 at 1:34 am

    Spoiler nih :@
    pas zombienya ditembak –”
    ga jelas :s

    Ntar kalo u tabok tuh anak,berubah jadi zombi dia dan menular ke yg lain mengakibatkan muncul di koran dengan headline :

    Resident Mbing : Beginning

    wokwowk
    semakin ga jelas –‘

    brb merasakan nikmatnya kelaparan dengan tutupnya warung indomi

    Reply

  2. Oooo….
    Itu Mama-nya toohh…
    Saya kira tantenya…
    Kok kamu gak bilang Mama-nya waktu saya bilang: “Itu mungkin Tantenya…”??

    Reply

  3. huahahaha.. ngakak konyol banget..

    @alpin : di g ada stok popmie untungnya hauaha

    @wandy : ko wandy bener2 bangga jadi orang lemot –‘

    Reply

  4. Posted by Xander™ on October 11, 2007 at 9:53 am

    @Alpin :
    kasian deh alpin yang kelaparan… btw, Resident Mbing boleh juga tuh… wkakakakaka…

    @Wandy Pangeran “Lemot” Cinta :
    sekarang udah bilang kan di blog?😛

    @ Adrian :
    huehuehuehue….
    pop mie dah abis dri… kacau…

    Reply

  5. hai xander..salam kenal ya 🙂
    gua juga kadang sebel kalo ada anak2 pas nonton film haha..sama ternyata..😀

    Reply

  6. Posted by Xander™ on October 11, 2007 at 1:04 pm

    @Pucca :
    met dateng Pucca… kunjungan balik nih ya? ahhahahaha… yup emang nyebelin sih… hahahahaha…

    Reply

  7. Posted by rocker on October 11, 2007 at 5:26 pm

    wah lucu2… botak emang jago nulis blog hahaha. inti dr blog diatas ialah kenalan lah dengan nyokapny, spy bs duduk disamping nyokapny :s bkn disamping anakny :s

    Reply

  8. Posted by Alva on October 11, 2007 at 5:40 pm

    Terjadi event baru :

    Makan indomi di haji senin bareng agu + badsmaru + jotob ,ga jadi kelaparan deh😀
    owkwokwowkwok

    @adurian : sepertinya gw perlu beli pop mie juga,tapi ga ada air aqua,gmn gw masak pop mienya :@:@:@

    Reply

  9. Hahaha… kek dulu nyokap g nonton bioskop, g ditinggalin di lorong deket WC sana. G duduk aja main disana dengan anak2 lainnya, secara anak kecil yang di tinggalin bonyoknya disana bukan cuma g doank! hehehe

    Nonton klo bawa anak kecil emang pusinkkk!

    Reply

  10. Posted by Xander™ on October 16, 2007 at 2:06 am

    @Pitshu :
    welcome welcome…
    omg, di deket WC? gelap2an gitu?
    iya bener sih, nonton jangan bawa anak kecil😛

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: