Topic of The Day : How To Make Our Parents Happy?

The greatest gift from God is my life. Then, the second are my parents.

Pagi-pagi ngeblog. Coba lihat jam berapa saat ini? 11:28 am. Orang bilang jam segini adalah siang hari. Namun bagi anak kos sepertiku, jam segini bagaikan jam setengah tujuh pagi, karena aku baru saja bangun. Nikmat sekali masa-masa menjadi mahasiswa ya, sayang sebentar lagi akan segera berakhir, kalau lulus itu juga… hahahhahaha… aku jadi teringat salah satu status YIM temanku yang kemarin mengatakan tentang quote of the day : Lebih takut mana, sidang skripsi atau kita ‘gak bakalan sama-sama lagi?

Aku baru tersadarkan, bahwa ternyata waktuku menjadi mahasiswa tidak panjang lagi (macam pemeran utama drama yang mau mati gitu, ngomongnya gini pasti…). Awal tahun depan, sudah mulai nyari kerja. Kalau aku berpikir tentang quote di atas, maka sekarang aku akan jawab dengan yakin, aku lebih takut perpisahan. For about the three years we’ve been together, we’ll be separated each other. Rasanya berat meninggalkan rutinitas seperti saat ini. Namun dikaitkan lagi dengan kalimat pertama yang aku tulis di atas, aku rasanya ingin cepat-cepat lulus dan minimal bisa menghidupi diriku sendiri. Tidak lagi bergantung pada orang tua.

Aku bukan berasal dari keluarga yang kaya. My father’s just an employee in my relative’s shop. And my mother opened a small shop at my house that only can cover a daily budget of my family. Tetapi itu tidak menghalangi mereka berjuang untuk keluarga. Terutama untuk anak-anaknya. Aku merasa sangat bersyukur memiliki orang tua seperti mereka. Tidak memberikan kepuasan materi kepada anak-anaknya memang, namun dengan kebijaksanaan dan pendidikan yang diberikan selama ini, aku menjadi aku yang sekarang. Setiap cara pikir dan cara mengambil keputusan yang aku lakukan, mayoritas aku lihat dari papaku. Kedisiplinan, keteguhan, dan mungkin sedikit kebiasaan rapi aku dapatkan dari mamaku. Aku memang bukanlah orang yang dapat dibilang baik, namun aku merasa semua kebaikan yang ada dalam diriku, sebagian besar terpupuk dari didikan orang tuaku semasa aku tinggal di rumah (secara sudah 3 tahun belakangan ini ngekos di Jakarta).

Saat ini, mereka sudah beranjak tua. Papaku sudah merasakan berbagai keluhan dengan tubuhnya. Rasanya sangatlah tidak enak melihat mereka yang sudah cukup untuk dibilang tua (atau kalau tidak terima, hampir tua deh), masih saja bekerja keras untuk anak-anaknya. Dan aku merasa teramat bersalah lagi, apabila aku menyia-nyiakan begitu saja hasil kerja keras mereka salama ini. Aku terkadang merasa miris melihat beberapa orang temanku. Terdapat dua kondisi yang membuatku merasa miris.

Yang pertama yaitu, ada seorang anak yang orang tuanya kaya raya. Namun jangankan untuk berkomunikasi, untuk bertemu dengan orang tua pun jarang, walaupun mereka tinggal satu rumah. Orang tua terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, dan tidak memperhatikan anaknya. Mereka hanya memberi modal materi yang banyak kepada anaknya, tanpa pendidikan mental dan moral, padahal mungkin anaknya sangatlah merindukan hal itu, anaknya merasa iri kepada temannya yang lain, yang walaupun tidak kaya raya tetapi dekat dengan orang tuanya. Ini bukanlah cerita di buku PPKn ataupun buku pelajaran agama, ini benar-benar terjadi.

Lalu yang kedua adalah seorang anak yang keluarganya dapat dibilang tidak kaya raya. Anak tersebut selalu disupport oleh orang tuanya. Apapun yang diminta selalu diberi, meskipun memerlukan usaha keras untuk mewujudkannya. Anak tersebut hidup bagaikan orang kaya. Namun jangankan membahagiakan orang tua, kuliah saja berhenti di tengah jalan. Lalu dengan dalih tidak mampu mengikuti, dia mengambil sekolah jurusan lain yang juga membutuhkan modal besar. Orang tua yang melihat anaknya seperti itu, mungkin hanya bisa mengurut dada. Toh, orang tua yang baik tidak akan menelantarkan anaknya, sejahat apapun anaknya, dia tetap anaknya.

Aku jadi teringat salah satu kalimat yang pernah papaku bilang, “Papa nggak bisa ngasih kamu banyak seperti yang orang lain kasih ke anaknya, tapi cuma bisa berusaha dan berdoa, supaya kamu bisa sukses, bisa lebih baik dari Papa. Yang bisa diusahakan sekarang adalah sampai kamu lulus kuliah, selebihnya usaha kamu dan berkat dari Tuhan.” Hal apa yang lebih indah selain merasa didukung dan didoakan oleh orang tua? Aku rasa aku memiliki hal yang lebih baik dibanding kepuasan materi. Karena apa yang diinginkan orang dengan materi? Kebahagiaan bukan? Seberapa “urgent”-nya kah arti materi apabila ada orang yang mencintai kita dan senantiasa mendukung kita serta mendoakan kita? (materi tetap saja dibutuhkan sih, nggak ada duit nggak makan toh?)

Mamaku, adalah seorang pekerja keras yang selalu mementingkan kebutuhan anaknya daripada dirinya sendiri. Apapun yang dibutuhkan anaknya, mama selalu berusaha untuk memenuhinya (yang masuk akal tapi ya, kalau anaknya butuh mobil ya dicuekin juga). Mama selalu berusaha terbuka kepada anak-anaknya, jadi anak-anaknya pun selalu merasa enak untuk bercerita, mengungkapkan masalah yang sedang dialami, atau dalam bahasa manusianya “curhat”. Aku pikir tidak banyak anak yang curhat kepada orang tua. Namun hal itu menjadi biasa di keluarga kami. Itulah yang membuat aku merasa dekat dengan orang tua. Dan semua hal yang baik itulah yang membuat aku merasa aku harus berusaha membuat mereka bahagia.

Mimpiku saat ini adalah dapat membuat mereka bahagia di hari tua, tidak lagi harus bekerja menghidupi keluarga dan diri mereka sendiri. Istilahnya dapat menikmati hidup dengan santai. Musuh utamaku saat ini adalah : malas. Ya, hal itu memang selalu menjadi musuh di kala niat berusaha sudah ada. Sekarang ini hanyalah bagaimana aku dapat mengalahkan kemalasanku dan terus berusaha. Semoga aku bisa…

Mungkin quotes tersebut harus diganti menjadi seperti ini:
Lebih takut mana, melihat orang tua yang telah berusaha untuk kita begitu banyak menjadi kecewa atau kita (teman-teman) ‘gak bakalan sama-sama lagi?”
Such a hard decision to make… hahahahahaha….
See you in my next post…

Regards,
Xander™

12 responses to this post.

  1. Posted by Alva on October 25, 2007 at 12:53 pm

    You can’t exist in this world without your parents eh?
    Duh,kok gw ngerasa bersalah juga yah –“,ya nih da mau lulus,uoghhhhhhhhhh arghhhhhhhhh groarrrrrr #_#
    mau jadi apa ntar abis lulus ?

    Berarti yg di buku PPKN diambil dari kenyataan kan –‘

    btw,itu pilihan yg berat juga,antara ga meliat ortu yg kecewa atau bareng temen2 lg
    tapi,bukankah temen masi bisa dicari sementara ortu cuma ada 2(kecuali ortu angkat,ortu asuh,ortu lain2)

    so,intinya jangan malas yah,wokwokwwok

    Reply

  2. Posted by Lynx on October 25, 2007 at 1:27 pm

    seeeeep lek berusaha yang terbaik untuk diri kita sendiri sehingga bisa meringankan beban orang tua..

    ganbatte ganbatte..!!!

    lek, gw ada usul! bgmn klo cerita nyata di atas dibuat J-dorama nya😀😀

    Reply

  3. Posted by Xander™ on October 25, 2007 at 3:20 pm

    @Alva :
    emang u punya ortu lain ya? hahahahha… iya nih jangan malas bro…

    @Lynx :
    swt, gimana coba cara buat J-Doramanya… kirim blog gw gitu ke Jepang? wakakakkaka…

    Reply

  4. Plak plak plak plok plak plok….
    Brb tertampar…..O_o
    Brb serius kerjain skripsi…O_o

    Reply

  5. Posted by Alva on October 25, 2007 at 5:56 pm

    Ortu gw cuma 2 (sampe sekarang –“)
    ga tau deh kalo ntar ada ortu tambahan lainnya,wokwokwowk

    wuogh,ko wandy kena tampar,coba liat mukanya lek,uda babak belur tuh
    enjun mau buat dorama –“,kalo gitu buat I-Dorama aja (alias Indonesian Dorama,wokwokwowk)

    Reply

  6. Sebenarnya g sih ga pengen kuliah dulunya, pengennya lulus SMU langsung kerja. Cuma bokap ngotot anaknya kudu kuliah S1, g sempet nawar2 gemana kalau D1 atau D3 hihihi. Tapi akhirnya g tau kenapa alasan bokap begitu ngotot pengen anaknya kuliah.

    Bokap itu termasuk anak yg pintar, cuma dulu ga ada duit buat sekolah jadi dia cuma sekolah STM. Dan STM jaman dulu hanya setara SMP doank! dan dia pengen sekarang ke 3 putrinya menyandang gelar Sarjana walaupun hanya lulusan S1. Klo mau S2 yah biaya sendiri hihihi. Karena dulu dia ga bisa sekolah tinggi, makanya sekarang dia pengen anaknya bisa sekolah lebih tinggi.

    Walaupun g agak males kuliah ^^, tapi g juga ga mau ngabisin uang bonyok untuk berlama2 di kampus, g yg seharusnya bisa lulus dalam waktu 3.5 tahun. Akhirnya lulus 4 thn, soalnya mau lulus barengan sama Cici. Cici ngambil arsitektur jadi kuliahnya 5 taon🙂.Jadi waktu wisuda bedanya cuma 1 bulan, dan bisa sekalian bikin photo keluarga. Keliatan banget bokap seneng banget :))

    Reply

  7. Posted by Xander™ on October 27, 2007 at 11:32 pm

    wah pitshu maen lagi kesini… hehehehe…
    ceritanya mirip banget sama bokap gw… cuma kita anak2nya sadar aja harus kuliah dan sekolah setinggi-tingginya… itu pasti lega ya waktu liat senyum bokap pas wisuda…😛

    Reply

  8. cara bikin ortu bahagia itu kalo dia melihat anaknya sekarang sudah bisa hidup bahagia lebih dari dia..🙂
    istilah nyokap gua tuh kalo udah punya sayap dan bsia terbang sendiri🙂

    Reply

  9. Posted by Xander™ on October 31, 2007 at 9:16 am

    wah pucca jg maen…. hahahahaha….
    iya, tul, orangtua bakal lebih seneng kalo anaknya lebih sukses n lebih bahagia dari dirinya sendiri…😛

    Reply

  10. Posted by iRVaN on November 2, 2007 at 8:15 pm

    jujur lek, gw jga ngeri bgt
    ntah mau jadi apa ntar klo dah lulus (klo lulus itu) >,<
    klo mama gw sih prnah bilang klo dia pgn liat anaknya kyk yg di tipi2 itu
    kerja pake dasi di kantoran
    tpi gw itu plg males klo kerja begituan dan kl mnurut gw nih, kerja di kantoran itu brarti kerja ma orang, dan kerja ma orang itu agak ga enak (pengalaman)
    mungkin gw sih pengennya buka usaha ndiri, tpi ga tau usaha apaan
    dan semisalnya buka usaha ndiri, brarti buat apa donk gw kuliah 3,5 taon ini toh nanti di usaha gw kyknya ga bakal ada yg namanya SQL dll ..
    dilema ini .. sungguh2 dilema .. ckckck ..

    Reply

  11. G juga udah tau perasaan ortu g lho, banyak kegiatan yg ga bisa g ikutin seperti, les dance, les piano, hockey, …

    Nanti klo g punya anak dan duit lebih, g mau anak g fokus untuk salah satu kegiatan, entah itu les nari, balet atau musik. Jangan kek g, ga ada satupun yang g bisa hahaha.

    Sama dengan pemikiran bokap, dulu dia ga bisa sekolah tinggi. Tapi anak g nanti harus sekolah tinggi jangan sampe kek g ^^

    Reply

  12. Posted by Xander™ on November 6, 2007 at 2:58 am

    Gw berpikir jg gitu, sodara gw yg masih kecil udah dicekokin orangtuanya berbagai les, banyak banget, kasian jadinya…. hahahahaha…

    Lebih baik ga banyak2 tapi bisa, daripada banyak tapi ga bisa… setuju2… huahahaha….🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: