Terima Kasih

Terima kasih. Sebuah ungkapan yang sederhana, sepertinya mudah diucapkan, namun pada kenyataannya justru sulit untuk berterimakasih. Sebenarnya apa sulitnya ya, bilang “Terima kasih” sambil senyum ke orang-orang yang sudah secara langsung maupun gak langsung membantu kita? Misalnya saja, kalo kita lewat ke loket parkir, ngambil tiket parkir ataupun membayar parkir, cobalah ucapkan terima kasih kepada penjanga loket, ataupun ke satpam-satpam yang memeriksa STNK kendaraan kita (khusus motor secara saya pake motor). Mungkin kerjaan yang menjemukan itu akan menjadi menarik bagi mereka karena client-client mereka dengan senyum ramah mengucapkan terima kasih atas jasa mereka. Sepele? Betul sekali, namun kebanyakan orang tidak dapat melakukannya.

Ingat iklan pom bensin edisi lebaran dari perusahaan bahan bakar negara kita? Mungkin banyak dari masyarakat Indonesia memprotes biaya yang mahal untuk sebuah iklan padahal produk mereka masih merajai pasar bahan bakar kendaraan bermotor (mubazir gitu lho, mending juga buat apaaa gitu…) namun saya melihat sebuah sisi baik dari iklan tersebut. Sebuah contoh sederhana dari situ, ketika mengisi bahan bakar pun, sebuah senyuman dapat merubah segalanya.

Terkadang, saat kita sedang dirundung masalah, sulit sekali untuk berterimakasih ataupun tersenyum. Senyuman itu menular lho (jadi inget waktu bahas ini waktu presentasi OPT ACE batch 7). Setiap orang yang kita beri senyuman, normalnya mereka akan membalas balik senyuman kita. Dan syukur-syukur, senyuman itu dibagi juga ke orang lain. Sehingga suasana hati setiap orang akan dapat lebih baik. Saya mengerti setiap orang punya masalah. Saya juga punya masalah. Besarnya masalah bagi tiap orang itu relatif. Tidak benar bahwa masalah saya itu paling berat dibanding orang lain, mungkin memang bagi saya itu berat, namun ada masalah lain yang mungkin bagi saya ringan, bagi orang lain sangatlah berat. Hal ini dikarenakan latar belakang dari tiap orang yang berbeda-beda. Jadi, untuk apa memusingkan masalah? (ngomong sih gampang, prakteknya susah booo)

Hadapilah dengan senyuman. Kata-kata basi memang, namun benar-benar bermakna. Kemarin sore, saya sedang benar-benar butek karena masalah. Benar-benar banyak pikiran. Kesialan datang bertubi-tubi sore itu, namun ternyata, sebuah senyuman dari orang yang saya harapkan, bisa mengubah semua itu. Suasana hati yang tadinya galau bisa jadi lebih tenang, biarpun tadi pagi mulai kacau lagi. Ternyata senyuman itu bagaikan candu (lagu kali candu… )

Kembali ke terima-kasih. Kedua kata ini, dapat menjadi rutinitas belaka bagi kita sekaligus menjadi berkat bagi semua orang. Tadi sore saya membuka email saya, mendapatkan sebuah tulisan karya Andy F. Noya yang dikirimkan teman saya, yang kebetulan juga membahas tentang hal ini, dengan judul EMPATI. Jadi, bagaimana kita harus berterima kasih atau bagaimana kita harus tersenyum? Mungkin bagi para penjaga loket parkir atau security, sebuah ucapan terima kasih sederhana ditambah sebuah senyuman tulus akan meringankan beban mereka hari itu, di mana hanya berhadapan dengan asap kendaraan dan panasnya loket parkir. Bila dengan itu saja kita dapat berbuat baik kepada setiap orang yang kita temui, kenapa kita tidak berusaha melakukannya dari sekarang?

Berikut artikel dari Andy F. Noya, yang saya harap dapat menggugah kita untuk melakukan hal yang sepele namun bermakna ini, yang sudah saya lakukan sejak lama J. Salah satu teman baik saya yang saya tau juga menerapkan prinsip seperti ini adalah Wandy, thx udah menularkan kebiasaan ini ke saya. Saya juga mau berterimakasih buat Mami saya yang berulang tahun 4 hari lalu, 16 November. Selamat ulang tahun Mi, terima kasih buat semua yang telah Mami berikan buat saya, semoga saya dapat membalasnya suatu saat nanti. Ingin belajar berterima kasih? Tinggal bilang aja tuh, terima kasih ^^

EMPATI
By: Andy F Noya

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji
dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas
karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.

Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang
menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula
yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.

Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak
terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya
terlalu asyik menyantap makanan.

Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa
saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
pemandangan tersebut menjadi istimewa.

Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru
saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.

Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas
meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.

Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah
berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan
yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
pelayan sekalipun.

Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anakmelakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan
besar sekali bagi para pelayan restoran.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan
sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.

Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak
itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan,
umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan.
Keteladanan kecil yang berdampak besar.

Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap
orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari
itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa
bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang.

Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku “Chiken Soup”, saya kerap
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di
belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan
merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia
bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya
berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.

Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.

Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata
“terima kasih” saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian.
Menurut dia, kata “terima kasih” merupakan “magic words” yang akan membuat
orang lain senang. Begitu juga kata “tolong” ketika kita meminta bantuan
orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.

Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet,bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. “Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?” Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuahtulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.

Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.

Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar,
kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal
karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.

Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di
antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah
ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang
membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.

Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu.

Mulailah sekarang juga.

NB: tadinya mau post dua sekaligus, tapi yg satunya menyusul aja ah, keburu capek 🙂

Regards,
Xander

5 responses to this post.

  1. Posted by cilpi on November 20, 2008 at 11:49 pm

    hmmm…setuju bgt klo senyum itu menular
    coz akir2 ini aku sering ketularan tu senyum dr tmn2ku klo pas aku lg butek
    hahahaha

    lg butek y lek? sabar2…hbs butek terbitlah bening
    (ada yg aneh ama tu kalimat ga seh)

    aku juga lg tahap blajar mo kyk tmnku ni yg bs ngadepin smua mslhny dgn fun…jd ama dy dibawa ktawa aj (dy buka org gila kok…hahaha)
    aku ud pernah coba n emg perasaan rasany jd lbh ringan n bs semangat lg

    jadiii…mari tertawaaaa
    uda lah sekian lah lek…makin gaje de –‘

    Reply

  2. Posted by mekeyaya on November 21, 2008 at 12:04 am

    terima kasih alek atas postingan ini

    Reply

  3. nice post… keep posting juragan!

    Reply

  4. Posted by dr3am on November 24, 2008 at 9:45 am

    Makanya mesti banyak senyum tuh 😀😀

    Reply

  5. Posted by yoband on December 3, 2008 at 10:53 pm

    panjaaaaaaaaang tapi josssss……
    Iya mbek, senyum itu nular, makanya walaupun sedang pilek dan batukmu dulu tak begini…. harus tetap senyum…
    (tapi ga tau loh mbek batuk lo kaya apa abis ga ketemu sih hehe)

    nb: kuis nih, temukan 4 kata2 jorok di paragraf pertama huehehehehehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: