Oleh-Oleh Masa Kecil

Catatan: Tulisan ini sudah ada sejak satu hari sebelum Imlek, namun terlupakan dan baru saja di post…

Sebuah tulisan dari kampung halaman. Kampung halaman coy! Gak pernah kan saya update blog dari kampung halaman? Wait-wait… kampung halaman saya di mana ya? Hehehehe… Quiz kali ini, kampung halaman saya di mana hayooo??? Yang bener akan dapet hadiah menarik, berupa sebuah ciuman manis dari Mr. Wandy. Bukan begitu Mr. Wandy?

NB: Apabila ada kesamaan nama dan tokoh, itu merupakan kebetulan semata, kesengjaan yang disengaja. Bila sakit berlanjut, hubungi dukun beranak.

Yap. Hari ini saya berada di rumah. Dengan laptop pinjaman yang juga sudah jadul, saya mengetik beberapa patah kata untuk mengobati kerinduan penggemar-penggemar saya akan cerita-cerita saya yang tentu sangatlah tidak menarik. Oh ya, FYI, besok merupakan tahun baru Imlek. Oh ya, sori-sori, pasti sudah pada tau, secara kalian sudah siap menadahkan tangan dengan muka memelas… eh salah, sudah siap mengepalkan tangan dengan mengucapkan “Kiong Hi” atau “Gong Xi”, lalu dilanjutkan dengan kegiatan yang sama dengan yang sebelumnya, ngarep dapat amplop merah isi duit. Percuma toh amplop merah kalo isinya surat hutang. Huehehueuehe…

Cerita kali ini kebanyakan tentang nostalgia. Hmmm… nostalgia atau nostalgila ya… sama saja, toh yang akan saya ceritakan di sini sekarang merupakan kegilaan-kegilaan masa kecil yang memang gila. Gak tau malu. Cuwek. Bandel. Itulah saya waktu kecil, walaupun pada kenyataannya juga saya merupakan salah satu anak manis dan alim di sekolah (tolong jangan muntah dulu… ). Jadi ceritanya, terakhir saya pulang adalah liburan Idul Fitri tahun lalu. Memang belum terlalu lama, namun beberapa hal ternyata memang sudah berubah.

Dulu, waktu saya SD sampai SMP, saya terkenal suka bermain sepak bola di lapangan basket, yang sekarang dikenal dengan futsal (jadi bangga, ternyata saya dulu sudah bermain futsal, jadi saya bisa dikatakan pelopor permainan futsal juga *ngarep*). Parahnya, saya bermain futsal-futsalan itu pada jam kosong pelajaran, atau waktu istirahat yang sebentar, dan pulang sekolah yang seharusnya pulang karena panas terik tidak cocok untuk bermain bola. Bola yang saya gunakan juga bola berstandard internasional, bola yang konon juga dipergunakan anak-anak berbakat macam Ronaldo, Ronaldinho, atau Lionell Messi sewaktu mereka pertama kali mengenal sepak bola. Ya, bola itu adalah : Bola Plastik.

Sungguh, sebuah kegembiraan tersendiri bisa bermain bola hingga baju basah oleh keringat dan dimarahi oleh kepala sekolah karena masuk kelas dengan bau-bauan yang semerbak jijaynya. Hehehehe… Nah, waktu itu, kebetulan di sebelah lapangan tempat kami bermain itu ada sebuah rumah, yang dihuni oleh dua orang nenek-nenek. Kami menyebutnya “Rumah Nini” (nini merupakan bahasa Sunda dari nenek). Secara gairah masa muda kami masih membara, tidak jarang kami menendang bola terlalu keras, sehingga melewati pagar pembatas yang sebenarnya sudah dibuat cukup tinggi. Bola bisa nyasar ke genteng dan tidak turun lagi, atau nyasar ke jalan (kalo ini gampang, tinggal minta orang lewat untuk lempar bola kembali ke lapangan), atau nyemplung ke sungai (kalo ini sulit, karena sungainya hitam, menjijikan, dan penuh sampah, sehingga yang sudah nyemplung kesana hampir mustahil kembali dalam keadaan wangi dan bersih), dan yang terakhir adalah yang berhubungan dengan Rumah Nini, yakni nyasar ke area rumah si nini. Entah itu di genteng maupun di pekarangan rumahnya. Dan itu merupakan satu kesalahan besar.

Mengapa bola plastik legendaris yang nyasar ke rumah si nini menimbulkan masalah besar? Karena ternyata dua orang nenek tersebut benci sekali rumahnya menjadi tempat nyasar bola kita. Hehehehehe… dan setiap tersangka yang melakukan itu, harus menahan kuping mereka dan kemaluan ehhh maksud saya rasa malu mereka untuk mengemis kepada dua orang nenek itu memohon agar mereka mengembalikan bola yang nyasar itu. Tak terhitung berapa kali kami disumpah serapah oleh nenek-nenek itu. Mungkin ini sebabnya aku jadi ganteng sekarang ini (setelah dipikir-pikir analisis ini salah besar, secara si nenek dulu sumpah serapahnya ga ada yang bagus).

Namun keadaannya saat ini telah berubah. Rumah itu kini sudah tidak ada lagi. Sudah ada orang lain yang membelinya dan membangunnya kembali. Saya juga tidak mengetahui nasib kedua nenek tersebut, apakah masih hidup dan pindah rumah, atau sudah tidak ada. Namun saya merasa sangat menyesal, kenakalan kami masa lalu telah mengganggu kehidupan nenek-nenek itu. Maaf nek, bila bola hasil tendangan anak-anak ingusan naif tidak tau diri seperti kami telah mengganggu kalian. Hehehehe…

Mengenang saat-saat masa kecil seperti itu memang menyenangkan. Rasanya hidupku begitu mudah, begitu gembira, begitu polos. Masa kecil memang tak tergantikan. Maka itu, saya selalu ingin membawa kenangan masa kecil yang sederhana, ke dalam hidup saya sekarang ini. Semakin dewasa, orang semakin rumit bukan? Nah, konsep kesederhanaan dan kepolosan seorang anak harus dibawa agar kita tidak terlalu serius dalam menghadapi sesuatu, sehingga kita tidak menyadari keadaan di sekitar kita. Sebuah motto yang sesuai mungkin untuk bersyukur atas keadaan yang serba menyulitkan sekarang ini: “Carpe Diem”

Regards,
Xander™

3 responses to this post.

  1. Posted by cilpi on February 9, 2009 at 12:33 am

    hahaha..sepitu mbek
    dulu waktu kecil plg cuma mikir blajar biar dapet nilai bagus
    lhah skrg mikir ini, itu, inu (apa y inu –‘)
    mari teriakkan : KAMBING DIEM…eh mksdny CARPE DIEM :p

    Reply

  2. Posted by siaeve on February 10, 2009 at 8:59 am

    hmmmm………jadi pengen balik ke masa kecil lg😀
    btw, carpe apa ya ?

    Reply

  3. Komen singkat gara2 MGB:

    Carpe itu singkatan dari Pacar Pembantu. *sotoy*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: